Kupang, 6 April 2026 — Di tengah padatnya agenda kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di SD Inpres Kaniti, Senin (6/4/2026), terselip kisah haru yang menggambarkan kuatnya perjuangan seorang ibu demi masa depan anaknya. Seorang ibu bernama Milka dengan penuh tekad datang membawa harapan besar: ingin bertemu langsung Wakil Presiden untuk meminta bantuan biaya pendidikan anaknya.
Dengan membawa dokumen kependudukan yang telah dipersiapkan rapi, Milka berdiri di antara kerumunan, menunggu kesempatan agar bisa menyampaikan langsung kegelisahannya. Ia tidak datang tanpa alasan. Anak yang ia perjuangkan saat ini tengah menempuh pendidikan di Bali dan telah memasuki semester empat. Namun di balik itu, perjuangan sang anak tidaklah ringan—harus bekerja sambil kuliah demi bertahan hidup. Penghasilan yang didapatkan setiap bulan bahkan nyaris tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi membayar biaya kuliah yang terus meningkat.
Tekanan ekonomi yang berat membuat anak Milka mulai kehilangan harapan. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan perlahan memudar karena keterbatasan biaya. Kondisi inilah yang mendorong Milka mengambil langkah berani—datang langsung ke lokasi kunjungan Wakil Presiden dengan satu tujuan: mencari jalan agar anaknya tidak perlu menghentikan pendidikan.
Saat kesempatan untuk bertemu langsung Wakil Presiden belum juga terbuka, Milka tidak menyerah. Ia melihat sejumlah pejabat daerah dan aparat keamanan berdiri tidak jauh darinya. Dengan keberanian yang lahir dari kasih seorang ibu, ia mencoba mendekat dan berbicara langsung dengan Jhoni Asadoma, Hendro Cahyono, serta Rudi Darmoko.
Dengan suara penuh harap, Milka menceritakan secara rinci alasan kehadirannya. Ia menunjukkan dokumen yang dibawa, menjelaskan kondisi anaknya, serta harapannya agar ada uluran tangan dari pemerintah. Kisah itu rupanya menyentuh hati para pejabat yang mendengarnya.
Respons cepat pun datang. Wakil Gubernur NTT, Jhoni Asadoma, menyatakan kesiapan Pemerintah Provinsi NTT untuk membantu melalui skema beasiswa pendidikan, dengan catatan seluruh berkas administrasi dapat dilengkapi sesuai ketentuan. Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi Milka yang selama ini diliputi kekhawatiran akan masa depan pendidikan anaknya.
Tidak berhenti di situ, langkah konkret juga langsung diambil oleh Danrem 161/Wirasakti, Brigjen TNI Hendro Cahyono. Ia menyatakan kesediaannya untuk membantu membayar biaya registrasi kuliah pada semester berjalan. Bahkan, tanpa menunda waktu, ia langsung menginstruksikan staf khusus dari Korem untuk berkoordinasi lebih lanjut dengan Milka, termasuk meminta nomor kontak anaknya serta rekening resmi kampus agar bantuan dapat disalurkan secara tepat dan transparan.
Dukungan juga datang dari Kapolda NTT, Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, yang menyatakan komitmennya untuk membantu pembiayaan pada semester berikutnya. Sinergi dari berbagai pihak ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian terhadap pendidikan generasi muda masih sangat kuat, terutama bagi mereka yang berjuang di tengah keterbatasan.
Kisah Milka menjadi pengingat bahwa di balik setiap angka putus kuliah, ada perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat. Namun, keberanian untuk melangkah dan menyuarakan harapan dapat membuka jalan yang sebelumnya terasa tertutup.
Lebih dari sekadar peristiwa di tengah kunjungan pejabat negara, momen ini menghadirkan pesan kuat: bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dan setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk meraih masa depan. Tekad seorang ibu, yang dilandasi cinta dan harapan, hari itu berhasil mengetuk hati banyak pihak—dan mengubah kecemasan menjadi secercah harapan baru.
















